HEAT TREATMENT (PERLAKUAN PANAS)
Pengertian perlakuan
panas atau heat
treatment ialah suatu
cara yang mengakibatkan perubahan
struktur bahan melalui
penyolderan atau penyerapan panas: dalam bentuk bahan tetap
sama (kecuali perubahan akibat regangan panas). Yang disebut
struktur adalah susunan
dalam logaa, menjadi
dapat dlihat jika sekeping
logam yang terasah
dan teretsa (asam
salpeter) diamati dibawah mikroskop.
Struktur besi murni
Struktur semua logam terdiri atas
kristal-kristal yang bergandengan kuat satu
sama lain dalam
wujud dan ukuran
yang berlainan. Kristal-kristal
itu terdiri atas bagian-bagian terkecil suatu unsur, atom-atom. Atom besi tersusun
didalam sebuah kisi
ruang. Penegertiannya adalah
sebuah wujud garis meruang yang
titik-titik potongnya diduduki atom-atom besi, kisi ruang ini terdiri atas mata jaringan yang berbentuk dadu.
Dalam hubungan ini ditemukan perletakan atom menurut tiga jenis
:
¤
BESI ALFA
Delapan atom terletak
pada pojok dadu dan
sebuah atom ke 9
ditengah-tengah dadu (di pusat
ruang). Susunan atom ini disebut juga
kisi terpusat ruang sampai suhu
ruangan 7080 C, besi
alfa bersifat magnetis.
Dari 7680 C
sampai 9110 C, besi terpusat ruang menjadi tidak magnetis dan dahulu
disebut juga besi.
¤
BESI GAMMA
Pada 9110 C, ikatan kisi
terpusat ruang menjelma menjadi besi gamma terpusat bidang : pada setiap pojok dadu berada sebuah atom
dan 6 atom lainnya berada
dipetengahan ke 6 bidang
bujur sangkar permukaan
dadu. Karena sebuah
dadu gamma menampung 14 atom, sedangkan jumlah keseluruhan atom besi
tentunya tidak akan bertambah akibat pemanasan, maka dadu gamma lebih besar
dari dadu alfa.
¤
BESI DELTA
Pada 13920 C, besi gamma
yang terpusat bidang berubah wujud kambali menjadi besi
terpusat ruang yang
disebut besi delta
(gambar 2c). besi
delta berbeda dari besi alfa dalam jarak atomnya yang lebih besar.
MENGENAL PROSES HEAT
TREATMENT
Heat Treatment adalah
kombinasi dari operasi pemanasan dan pendinginan dengan kecepatan
tertentu yang dilakukan
terhadap logam atau
paduan dalam keadaan padat,
sebagai suatu upaya untuk memperoleh sifat-sifat tertentu. Proses
laku-panas pada dasar nya
terdiri dari beberapa
tahapan, dimulai dengan pemanasan sampai ke temperatur tertentu, lalu diikuti
dengan penahanan selama beberapa saat, baru kemudian dilakukan
pendinginan dengan kecepatan tertentu.
KLASIFIKASI
HEAT TREATMENT
v NEAR EQUILIBRIUM (MENDEKATI KESETIMBANGAN)
Tujuan umum dari perlakuan
panas jenis Near Equilibrium ini diantaranya adalah untuk
melunakkan struktur kristal,
menghaluskan butir, menghilangkan tegangan dalam
dan memperbaiki machineability. Jenis
dari perlakukan panas Near
Equibrium, misalnya : Full Annealing (annealing), Stress relief Annealing, Process annealing,
Spheroidizing, Normalizing dan Homogenizing.


Diagram : Heat treatment near equilibrium
Dari sedikit penjelasan
diatas dapat kita tarik benang merah bahwa secara umum laku
panas dengan kondisi
Near Equilibrium itu
dapat disebut dengan anneling. Anneling ialah
suatu proses laku
panas (heat treatment)
yang sering dilakukan terhadap
logam atau paduan
dalam proses pembuatan
suatu produk. Tahapan dari proses
Anneling ini dimulai dengan memanaskan logam (paduan) sampai temperature
tertentu, menahan pada
temperature tertentu tadi
selama beberapa waktu tertentu
agar tercapai perubahan
yang diinginkan lalu
mendinginkan logam atau
paduan tadi dengan
laju pendinginan yang
cukup lambat. Jenis Anneling
itu beraneka r agam,
tergantung pada jenis
atau kondisi
benda kerja, temperature pemanasan, lamanya waktu
penahanan, laju pendinginan (cooling
rate), dll. Sehingga kita akan
mengenal dengan apa yang disebut : Full
Annealing (annealing), Stress relief Annealing, Process annealing,
Spheroidizing, Normalizing dan Homogenizing.

Diagram : Near Equilibrium Ferrite-Cementid (Fe-
Fe3C)
Ö Struktur mikro
ü Ferrite ialah suatu
komposisi logam yang
mempunyai batas maksimum kelarutan Carbon
0,025%C pada temperature
723 Derajat Celcius,
struktur kristalnya BCC (Body
Center Cubic) dan
pada temperature kamar
mempunyai batas kelarutan Carbon 0,008%C.
ü Austenite ialah suatu
larutan padat yang
mempunyai batas maksimum kelarutan Carbon 2%C pada
temperature 1130 Derajat Celcius, struktur kristalnya FCC (Face Center Cubic).
ü Cementid ialah suatu senyawa
yang terdiri dari
unsur Fe dan
C dengan perbandingan tertentu
(mempunyai rumus empiris)
dan struktur kristalnya Orthohombic.
ü Lediburite ialah campuran Eutectic antara besi Gamma dengan Cementid yang dibentuk pada
temperatur e 1130 Derajat Celcius dengan kandungan Carbon 4,3%C.
ü Pearlite ialah campuran Eutectoid
antara Ferrite dengan Cementid yang dibentuk pada temperature 723 Derajat
Celcius dengan kandungan Carbon 3%C.
Ö Kandungan Carbon
0,008%C =
Batas kelarutan maksimum
Carbon pada Ferrite
pada temperature kamar 0,025%C
= Batas kelarutan
maksimum Carbon pada
Ferrite pada temperature 723
Ö
Derajat Celcius
0,83%C = Titik Eutectoid
2%C = Batas kelarutan Carbon pada besi Gamma pada temperature 1130
Derajat Celcius 4,3%C = Titik
Eutectic 0,1%C = atas kelarutan Carbon pada besi Delta pada
temperature 1493 Derajat Celcius.
Ö
Garis-garis
Garis Liquidus
ialah garis yang
menunjukan awal dari
proses pendinginan
(pembekuan). Garis Solidus
ialah garis yang
menunjukan akhir dari
proses pembekuan (pendinginan). Garis Solvus ialah garis yang menunjukan
batas antara fasa padat denga fasa padat atau solid solution dengan solid
solution. Garis Acm = garis
kelarutan Carbon pada
besi Gamma (Austenite)
Garis A3 =
garis temperature dimana terjadi
perubahan Ferrit menjadi
Autenite (Gamma) pada pemanasan. Garis A1
= garis temperature
dimana terjadi perubahan
Austenite (Gamma) menjadi Ferrit
pada pendinginan. Garis
A0 = Garis
temperature dimana terjadi transformasi magnetic
pada Cementid. Garis
A2 = Garis
temperature dimana terjadi
transformasi magnetic pada Ferrite.
v
NON EQUILIRIUM (TIDAK
SETIMBANG)
Tujuan umum dari
perlakuan panas jenis
Non Equilibrium ini
adalah untuk mendapatkan kekerasan
dan kekuatan yang
lebih tinggi. Jenis
dari perlakukan panas Non
Equibrium, misalnya Hardening,
Martempering,Austempering, Surface
Hardening (Carburizing, Nitriding,
Cyaniding, Flame hardening,
Induction hardening)
JENIS-JENIS PENGERASAN
PERMUKAAN:
Ø
Karburasi
Cara ini sudah
lama dikenaloleh or ang
sejak dulu. Dalam
cara ini, besi dipanaskan di
atas suhu dalam
lingkungan yang mengandung
karbon, baik dalan bentuk padat, cair ataupun gas. Beberapa bagian dari cara
kaburasi yaitu kaburasi padat, kaburasi cair dan karburasi gas.
Ø
Karbonitiding
Adalah suatu
proses pengerasan permukaan
dimana baja dipanaskan
diatas suhu kritis
di dalam lingkungan
gas dan terjadi
penyerapan karbon dan nitrogen.
Keuntungan karbonitiding adalah
kemampuan pengerasan lapisan
luar meningkat bila ditambahkan
nitrogen sehingga dapat
diamfaatkan baja yang relative murah ketebalan lapisan yang
tahan antara 0,80 sampai 0,75 mm.
Ø
Sianiding
Adalah proses dimana
terjadi absobsi karbon
dan nitrogen untuk memperoleh specimen yang keras pada
baja karbon rendah yang sulit dikeraskan.
Ø
Nitriding
Adalah proses pengerasan
permukaan yang dipanaskan
sampai ± 510°c dalam lingkungan gas ammonia selama
beberapa waktu.
PENGELOMPOKAN DAN
STANDARISASI BAJA
Ø
Pengelompokan Baja
a.
Baja Karbon
Baja karbon adalah paduan besi karbon di mana unsure karbon sangat
menentukan sifat-sifatnya, sedang unsur-unsur
paduan lainnya yang
biasa terkandung di dalamnya terjadi karena proses
pembuatannya. Sifat baja karbon biasa ditentukan oleh persentase karbon dan
mikrostruktur.
b.
Baja Paduan
Aja paduan adalah
baja yang mengandung sebuah
unsur lain atau lebih dengan kadar
yang berlebih daripada
karbon biasanya dalam
baja karbon. Menurut kadar unsur
paduan, baja paduan dapat dibagi ke dalam dua golongan yaitu baja paduan rendah dan baja
paduan tinggi. Baja rendah unsur paduannya di bawah 10% sedangkan baja paduan
tinggi di atas 10%.
c.
Baja Khusus
Baja khusus mempunyai
unsur-unsur paduan yang
tinggi karena pemakaian-pemakaian
yang khusus. Baja khusus yaitu baja than karat, baja tahan panas, baja
perkakas, baja listrik. Unsur utama dari baja tahan karat adalah Khrom
sebagai unsur e terpenting
untuk memperoleh sifat
tahan terhadap korosi.
Baja tahan karat ada tiga macam menurut strukturnya yaitu baja tahan
karat feritis, baja tahan karat martensitas
dan austenitis. Baja tahan panas,
tahan terhadap korosi. Baja ini harus tahan korosi pada suhu
lingkungan lebih tinggi atau oksidasi.Baja perkakas adalah baja yang dibuat
tidak berukuran besar tetapi memegang peranan dalam industri-industri. Unsure-unsur
paduan dalam karbitnya diperlukan
untuk memperoleh sifat-sifat tersebut
dan kuat pada
temperature tinggi. Baja
listrik banyak dipakai dalam bidang elektronika.
STANDARISASI BAJA
A.
Amerika Serikat
i.
ASTM ( American Society
for Testing Materials )
ii.
AISI (Americal
Iron and Steel
Institute) and SAE
(Society of Automotive Engineers)
B.
Menurut UNS (United
Numbering System)
i.
Jepang (JIS = Japan
Industrial Standar)
ii.
Inggris (British Standard)
iii.
Jerman DIN Swedia
iv.
Indonesia (Standar
Nasional Indonesia)
DIAGRAM BESI-KARBIDA BESI
Sebagian
dari diagram kesetimbangan besi-karbida besi baja terlihat pada gambar 3.1.
Bila sepotong baja
dengan kadar karbon
0,20% dipanaskan secara merata
dengan lambat dan
suhunya dicatat pada
selang waktu tertentu,
akan diperoleh kurva seperti
terlihat pada gambar
3.1. Kurva ini
disebut Kurva laju inverse.

Diagram : Besi-karbida
besi
Sumbu mendatar adalah
laju pemanasan atau
waktu yang diperlukan untuk memanaskan atau mendinginkan
baja sebanyak 10oC. Kurva ini merupakan garis
vertikal kecuali pada
titik-titik diamana laju
pemanasan atau pendinginan mengalami perubahan. Terlihat
bahwa pada tiga titik
terdapat perubahan dalam laju
pemanasan. Hal yang
sama dijumpai sewaktu
pendinginan; tercatat tiga perubahan yang lebih rendah dibandingkan
dengan sewaktu pemanasan. Titik-titik di mana
terjadi perubahan struktur
disebut titik transformasi dan
diberi lambing Ac1, Ac2 dan Ac3. Huuf C adalah
huruf permulaan dari kata perancis chauffage yang berarti memanaskan.
Titik-titik identik yang diperoleh pada kurva pendingin disebut Ar1,
Ar2 dan Ar3.r
diambil dari kata
refroidissement yang berarti mendinginkan.
Perubahan-perubahan yang terjadi
pada titik-titik kritis
tersebut disebut perubahan
alatropik. Meski susunan kimia tetap, baja mengalami perubahan sifat antara
lain : tahanan listrik, struktur atom dan kehilangan sifat magnetic. Menurut
defenisi suatu perubahan
alotropi adalah perubahan
yang mampu balik
ataureversible pada struktur atom
suatu logam yang diikuti
dengan perubahan sifat. Titik-titk
kritis tersebut harus diketahui, mengingat perlakuan panas baja meliputi
pemanasan di atas daerah ini. Baja tidak dapat dikeraska kecualibila dipanaskan
di atas daerah kritis bawah dan kadang-kadang di atas daerah kritis atas.

Diagram : laju-invers, untuk baja SAE 1020
Serangkaian percobaan pemanasan dan pendinginan dapat dilakukan pada
baja dengan kandungan
karbon yang berbeda
dan bila hasilnya
digambarkan sebagai kurva suhu
terhadap kadar karbon
maka akan diperoleh
suatu diagram yang serupa dengan
gambar 3.1. Diagram ini yang disebut diagram besi-karbida besi parsial hanya berlaku untuk
kondisi pendinginan yang perlahan-lahan. Suhu pencelupan yang tepatdapat
diperoleh dari diagram ini. Misalkan sepotong baja karbon 0,20% dipanskan
disekitar 870oC. Diatas titik Ar3 baja merupakan larutan padat dari karbon
dalam besi-gamma dan disebut austenit. Atom-atom besi membentuk kisi kubik
pemusatan sisi (Face Centered Cubic) dan
bersifat nonmagnetik.
Bila didinginkan sampai
mencapai suhu dibawah
titik Ar3, atom-atom akan membentuk
kisi kubik pemusatan
ruang (Body Centered
Cubic). Struktur logam dapat
dilihat pada gambar 3.3. Struktur yang baru ini disebut ferit atau besi
alpha dan merupakan
larutan padat karbon
dan besi alpha.
Daya larut karbon dalam besi alpha jauh lebih rendah
daripada dalam besi gamma.Pada titik Ar2 baja menjadai magnetic,
dan bila baja
didinginkan sampai garis
Ar1, ferit yang terbentuk akan
bertambah. Pada garis
Ar1 austenit yang
masih ada akan bertransformasi mejadi suatu struktur
baru yang disebut perlit.

Gambar : Mikrofoto efek
pertambahan karbon atas struktur logam
Bila kadar
karbon baja malampaui
0,20%, suhu diamana
ferit mulai terbentuk dan mengendap dari austenit turun. Baja
yang berkadar karbon 0,80% disebut baja eutektoiddan struktur terdiri
dari 100% perlit. Titik eutektoid adalah suhu terendah dalam logam dimana
terjadi perubahan dalam keadaan larut padat, dan merupakan suhu keseimbangan
terendah di mana austenit terurai menjadi ferit dan simentit. Bial kadar karbon
baja lebih besar daripada eutektoid, perlu diamati garis pada diagr am
besi-karbida besi yang bertanda Acm. Garis ini menyatakan dimana karbida besi mulai memisah dari austenit.
Karbida besi ini dengan rumus Fe3C disebut sementit. Sementit sangat
keras dan rapuh. Baja yang mengandung
kadar karbon kurang dari eutektoid (0,80%). Disebut baja hipoeutektoid, dan
baja dengan kadar karbon lebih dari eutectoid disebut juga hipereutektoid.
BESAR BUTIR.
Baja cair bila didinginkan mulai membeku pada titik-titik inti yang cukup
banyak. Atom-atom yang
tergabung dalam kelompok
di sekitar suatu
inti cenderung memiliki letak yang serupa. Batas
butir yang bentuknya tidak teratur tampak dibawah
mikroskop, setelah dipolis
dan dietsa dan
merupakan batas kelompok sel
atom yang memiliki
orientasi umum yang
sama. Ukuran butir tergantung pada
beberapa faktor, antara
lain laju pendinginan
sewaktu pembekuan. Baja dengan butiran
yang kasar kurang
tangguh, dan memiliki kecenderungan untuk distorsi, namun
baja jenis ini lebih mudah untuk pemesinan dan
memiliki kemampuan pengerasan
yang lebih baik.
Baja berbutir halus
di samping lebih angguh juga lebih ulet dna kurang peka terhadap distorsi
atau retak sewaktu perlakuan panas. Besar butir dapat dikendalikan melalui
komposisi pada waktu proses pembuatan,
akan tetapi setelah
baja jadi, pengendalian
dilakukan melalui perlakuan panas.
Alluminium yang digunakan
sebagai deoksidator merupakan
faktor mengendali yang terpenting, karena dapat menaikkan suhu dimana terjadi pertumbuhan butir dengan
cepat. Besar butir diukur dengan
mikroskop, meskipun penaksiran secara kasar dapat
dilakukan denagn memeriksa
bidang perpatahan. Untuk
pengukurna di bawah mikroskop
baja perlu dipolis
dan dietsa agar
batas butir tampak dengan jelas. Pada
karbon rendah ferit
akan berpresipitasi dari
austenit setelah didinginkan secara
perlahan-lahan. Karena laju pendinginan yang
rendah dapat menghasilkan terlalu
banyak ferit primer,
yang menyulitkan pengukuran
besar butir austenit sebelumnya,
maka harus diusahakan
agar laju pendinginan sedemikian rupa
sehingga struktur pracutektoid
hanya terjadi pada
batas-batas daerah perlit. Pada baja karbon medium, besar butir austenit
sebelumnya dihitung
dari luas
daerah perlit ditambah
dengan setengah daerah
ferit yang mengelilinginya. Pada
baja hipereutektoid besar
butir austenit dibatasi
oleh sementit yang mengendap.

Gambar : Pemisahan kristal
dan ukurna butir yang sangat besar.
DIAGRAM TRANSFORMASI
ISOTERMAL.
Diagram fasa Fe3C
bermanfaat untuk memilih
suhu yang tepat
untuk berbagai operasi laku
panas dan memperlihatkan pula
struktur yang dapat diperoleh setelah
pendinginan perlahan-lahan. Meskipun
demikian diagram tersebut tidak
menggambarkan pengaruh dari
berbagai laju pendinginan,
waktu pemanasan atau struktur yang dapat diperoleh bila pencelupan ditunda pada suhu tertentu. Diagram
transformasi isothermal atau
dikenal juga sebagai
diagram waktu-suhu-transformasi atau kurva S dapat memberi informasi
tersebut. Dengan mempergunakan diagram ini dapat dilihat perubahan struktur
bila logam dibiarkan pada suhu konstan tertentu.

Diagram : Transformasi
Dengan demikian waktu
transformasi mulai terjadi
dan berakhir dapat diketahui, begitu pula struktur yang akan diperoleh. Untuk memperoleh
struktur martensit, baja harus
dicelupkan dengan cepat
sedemikian sehingga kurva pendinginan tidak memotong kurva
transformasi. Pada gambar
3.5 yang menampilkan kurva
pendinginan yang memotong garis Ms dan Mf (permulaan dan berakhirnya
transformasi austenit menjadi martensit).
Bentuk umum dari
kurva
waktu-suhu-transformasi berbeda untuk
jenis baja yang berlainan, ter gantung pada kadar karbon, unsur paduan
dan besar butir austenit.
Kebanyakan unsur paduan
baja menggeser kurva
ke kanan, sehingga memperpanjang waktu pengerasan baja
tanpa mengenai atau memotong kurva.Hal ini
memungkinkan pengerasan ukuran
penampang yang lebih
besar. Pada baja karbon,
kurva akan bergeser
ke kiri dengan
menurunnya kadar karbon.Oleh karena itu
agak sulit untuk
memperoleh martensit dengan
pencelupan baja hipoeutektoid.
Baja karbon dengan komposisi eutektoid lebih mudah dikeraskan.
EFEK PADA STRUKTUR MIKRO DAN UKURAN BUTIRAN
Pada proses pembuatannya,
komposisi kimia yang dibutuhkan
diperoleh ketika baja dalam bentuk fasa cair pada suhu yang tinggi. Pada
saat proses pendinginan
dari suhu lelehnya,
baja mulai berubah menjadi fasa
padat pada suhu
13500, pada fasa
ini lah berlangsung
perubahan struktur mikro. Perubahan struktur mikro dapat juga dilakukan
dengan jalan heat treatment.
Bila proses pendinginan
dilakukan secara perlahan,
maka akan dapat dicapai
tiap jenis struktur mikro yang seimbang
sesuai dengan komposisi
kimia dan suhu baja. Perubahan struktur mikro pada berbagai
suhu dan kadar
karbon dapat dilihat pada Diagram Fase Keseimbangan (Equilibrium Phase
Diagram).

Diagram : Equilibrium
phase diagram for iron – iron carbide system (f.c.c.face– centred cubic: b.c.c.
body-cenreed cubic)
Penjelasan diagram:
I.
Pada kandungan
karbon mencapai 6.67%
terbentuk struktur mikro dinamakan Sementit Fe3C (dapat dilihat
pada garis vertical paling kanan).
II.
Sifat – sifat cementitte: sangat keras dan
sangat getas
III.
Pada sisi kiri diagram
dimana pada kandungan karbon yang sangat rendah, pada suhu kamar terbentuk
struktur mikro ferit.
IV.
Pada baja dengan kadar
karbon 0.83%, struktur mikro yang terbentuk adalah Perlit, kondisi suhu dan
kadar karbon ini dinamakan titik Eutectoid.
V.
Pada baja dengan kandungan
karbon rendah sampai dengan titik eutectoid, struktur mikro yang terbentuk
adalah campuran antara ferit dan perlit.
VI.
Pada baja dengan kandungan
titik eutectoid sampai dengan 6.67%, struktur mikro yang terbentuk adalah
campuran antara perlit dan sementit.
VII.
Pada saat
pendinginan dari suhu
leleh baja dengan
kadar karbon rendah, akan
terbentuk struktur mikro
Ferit Delta lalu
menjadi struktur mikro Austenit.
VIII.
Pada baja dengan kadar
karbon yang lebih tinggi, suhu leleh turun dengan naiknya kadar
karbon, peralihan bentuk
langsung dari leleh
menjadi Austenit.
IX.
Dari diagram
diatas dapat kita
lihat bahwa pada
proses pendinginan perubahan –
perubahan pada struktur kristal dan
struktur mikro sangat bergantung pada komposisi kimia.
PENDINGINAN
HEAT TREATMENT DIBEDAKAN MENJADI 2 YAITU :
I.
HEAT TREATMENT DENGAN PENDINGINAN TAK MENERUS
Jika suatu baja
didinginkan dari suhu yang lebih tinggi dan kemudian ditahan pada suhu
yang lebih rendah selama waktu tertentu, maka akan menghasilkan struktur
mikro yang berbeda. Hal ini dapat dilihat pada diagram: Isothermal
Tranformation Diagram.

Diagram : Isothermal transformation diagram for
0.2 C. 0.9% Mn steel
Penjelasan diagram:
i.
Bentuk diagram tergantung dengan komposisi
kimiaterutama kadar karbon dalam baja.
ii.
Untuk baja dengan kadar karbon kurang dari
0.83% yang ditahan suhunya dititik tertentu yang letaknya dibagian atas dari
kurva C, akan menghasilkan struktur perlit dan ferit.
iii.
Bila ditahan suhunya pada titik tertentu bagian
bawah kurva C tapi masih disisi sebelah atas garis horizontal, maka akan
mendapatkan struktur mikro Bainit (lebih keras dari perlit).
iv.
Bila ditahan suhunya pada titik tertentu
dibawah garis horizontal, maka akan mendapat
struktur Martensit (sangat keras dan getas).
v.
Semakin tinggi kadar karbon, maka kedua buah
kurva C tersebut akan bergeser kekanan.
vi.
Ukuran butir sangat dipengaruhi oleh tingginya
suhu pemanasan, lamanya pemanasan dan semakin lama pemanasannya akan timbul
butiran yang lebih besar. Semakin cepat pendinginan akan menghasilkan ukuran
butir yang lebih kecil.
II.
HEAT TREATMENT DENGAN PENDINGINAN MENERUS
Dalam
prakteknya proses pendinginan pada pembuatan material baja
dilakukan secara menerus mulai dari suhu yang lebih tinggi sampai
dengan suhu rendah.Pengaruh kecepatan pendinginan manerus terhadap struktur
mikro yang terbentuk dapat dilihat dari diagram Continuos Cooling
Transformation Diagram.

Penjelasan diagram:
·
Pada proses pendinginan secara perlahan seperti
pada garis (a) akan menghasilkan struktur mikro perlit dan ferlit.
·
Pada proses pendinginan sedang, seperti, pada
garis (b) akan menghasilkan struktur mikro perlit dan bainit.
·
Pada proses pendinginan cepat, seperti garis (
c ) akan menghasilkan struktur mikro martensit.
Dalam prakteknya ada 5 heat treatment dalam
pembuatan baja:
Secara umum
heat treatment dengan kondisi Near Equilibrium itu dapat disebut
dengan anneling.


1.
ANNEALING
Yang dimaksud
dengan
annealing ialah
menurunkan kekerasan suatu
baja dengan jalan memanaskan baja tersebut pada
temperatur
diatas temperatur
krisis maksimum 9800C, dan kemudian dinginkan
secara perlahan-lahan di udara
(sampai dingin). Sebagai misal baja dengan kadar
karbon 1,2%C, susunan strukturnya adalah Sementit dan pearlit, setelah kita
annealing maka akan didapat susunan
pearlit agak kasar sehingga mengurangi
kekerasan
dari baja tersebut.
TUJUAN DARI ANNEALING
IALAH UNTUK :
·
Mendapatkan
baja
yang mempunyai kadar
karbon
tinggi, tetapi dapat
dikerjakan mesin atau
pengerjaan dingin.
·
Memperbaiki keuletan.
·
Menurunkan atau
menghilangkan ketidak
homogenan
stuktur.
·
Memperhalus ukuran butir.
·
Menghilangkan tegangan dalam.
·
Menyiapkan
struktur baja untuk
proses perlakuan panas.
LANGKAH KERJA PROSES ANNEALING
:
§ Proses annealing
adalah sebagai
berikut:
o
Benda kerja kita masukan kedalam kotak baja yang kita isi dengan terak atau pasir.
o
Panaskan pada temperatur 9800C selama 1
sampai 3 jam.
o
Setelah cukup
waktunya kotak
kita angkat dari
dapur.
o
Benda kerja didinginkan dengan perlahan-lahan.
§ Cara-Cara
Pendinginan Pada
Proses Annealing:
o
Benda kerja dikeluarkan dari kotak dan dibiarkan dingin perlahan-lahan
dengan pendinginan dari udara.
o
Benda kerja bersama-sama dengan kotaknya dibiarkan dingin perlahan-
lahan
dengan
pendinginan udara.
o
Kotak yang berisi benda kerja dibiarkan didalam dapur dan dapur kita
matikan. Sehingga dapur, benda kerja dan kotak mengalami pendinginan yang perlahan-lahan
dari udara.
TIPE-TIPE PROSES
ANNEALING:
Ø Full Annealing.
Full annealing (FA) terdiri dari austenisasi dari baja
yang diikuti dengan
pendinginan yang lambat
didalam
tungku, kemudian temperatur yang dipilih untuk austenisasi tergantung pada kandungan karbon dari
baja tersebut.
Full annealing untuk baja hipeutektoid dilakukan pada
temperatur austenisasi
sekitar 500C diatas garis A3 dan mendiamkannya pada tempertur tersebut untuk
jangkauan waktu tertentu, kemudian
diikuti dengan pendinginan yang lambat diatas tungku. Pada
temperatur austenisasi, pembentukan austenit akan merubah
struktur yang ada sebelum dilakukan pemanasan, dan austenit yang terbentuk
relatif
halus. Pendinginan yang lambat
didalam
tungku akan
menyebabkan
austenit mengurai menjadi
perlit dan ferit. Pemanasan yang terlalu tinggi diatas
A3 akan menyebabkan austenit tumbuh sehingga dapat merugikan sifat baja yang diproses.
Menganil/annealing baja
hipereutektik dilakukan dengan cara
memanaskan baja
tersebut diatas A1 untuk membulatkan sementit proeutektoid. Jika
baja hipereutektik dipanaskan pada temperatur Acm dan didinginkan perlahan-lahan,
maka pada batas butir
akan terbentuk sementit preutektoid sehingga akan terjadi
rangkaian sementit pada batas butir austenit. Pendinginan yang
diperlambat akan
menyebabkan presipitasi ferit sebagai kelompok yang
terpisah. Pembentukan
daerah pemisah ferit pada baja yang
tidak dikehendaki karena akan menimbulkan daerah yang lunak (soft spot)
selama proses pengerasan berlangsung. Full
annealing juga diterapkan pada baja
karbon dan baja
paduan hasil proses
pengecoran serta baja hot worked hipereutektoid. Untuk produk cor yang besar,
terutama yang terbuat dari baja paduan,Full
annealing akan memperbaiki mampu mesin dan juga menaikan kekuatan akibat butir-butirnya menjadi halus.Full
annealing juga diterapkan pada baja-baja dengan kadar karbon lebih dari 0,5%
agarmampu mesinnya menjadi
lebihBaik.
Ø Spheroidized Annealing.
Spheroidized annealing (SA) dilakukan dengan cara memanaskan baja sedikit diatas atau dibawah titik A1, kemudian didiamkan pada temperatur tersebut untuk
jangka waktu tertentu
kemudian diikuti dengan
pendinginan yang lambat.
Proses ini ditujukan agar karbida-karbida yang berbentuk lamelar pada perlit dan sementit sekunder menjadi bulat. Disamping
itu, perlakuan ini ditunjukan mendeformasikan struktur seperti
martensit, trostit, dan sorbit dlsb
yang
merupakan hasil akhir dari proses quench.
2.
NORMALIZING
Normalizing
adalah proses Perlakuan panas terhadap baja dengan tujuan mendapatkanstruktur, butiran yang halus dan seragam untuk menghilangkan
tegangan dalam
akibat pengerjaan
dengan mesin.
TUJUAN NORMALIZING :
·
Untuk memperhalus butir
·
Memperbaiki mampu
mesin
·
Menghilangkan tegangan sisa
·
Memeperbaiki sifat
mekanik
baja karbon
struktural dan
baja-baja
paduan
rendah.
PROSES
NORMALIZING
Proses dari pada normalizing ialah dengan memanaskan baja diatas temperatur
kritis maksimum 850oC dan kemudian kita
biarkan dingin perlahan-lahan maka susunan
yang terjadi adalah
pearlite yang agak halus
sehingga
benda
kerja menjadi lunak dan tegangan –tegangan dari bahan tersebut akan hilang serta susunannya menjadi merata.( Menurut Hand
Out POLMAN )
Normalizing
terdiri dari Proses pemanasan baja diatas temperatur kritis A3 atau ACM dan ditahan pada temperatur tersebut untuk jangka waktu tertentu tergantung
pada jenis dan ukuran baja.
Agar diperoleh austenit
yang homogen baja-baja hypoeutektoid dipanaskan 30-400C
diatas garis A3. Pemanasan Austenit yang terlalu tinggi akan menyebabkan tumbuhnya butiran-
butiran austenit.
Setelah
waktu pemanasan
selesai, benda kerja kemudian didinginkan
diudara. Struktur metalurgi baja hypoutektoid yang
akan dihasilkan teriri dari ferit dan pearlite. Perlu diketahui bahwa batas-batas butir yang
baru tidak ada hubungannya dengan
batas-batas butir sebelum baja dinormalkan, jika struktur sebelum diproses berupa butir yang
kasar
atau tidak
beraturan
maka setelah
penormalan akan terjadi perbaikan terhadap strukturnya diiringi dengan tibulnya
perbaikan sifat
mekaniknya.
Dengan cara yang
sama Menormalkan baja hypoeutektoid dilakukan dengan memanaskan baja 30-400C diatas temperatur
ACM dan menhannya pada teperatur tersebut
untuk
jangka waktu tertentu
sehingga transformasi
fasa
dapat berlangsung
diseluruh bagian benda kerja dan selanjutnya didinginkan diudara.
Proses ini tidak hanya menghaluskan ukuran butir tetapi juga
melarutkan jaringan–jaringan
karbida yang
mungkin terbentuk pada saat
proses pengerjaan
panas atau pada saat dikarburasi.
Pada temperatur kamar struktur hasil penormalan akan
terdiri dari dari butir pearlit yang halus dan sementit. Struktur hasil penormalan lebih cocok untuk proses sperodisasi agar diperoleh mampu mesin yang lebih baik.
Sifat mekanik yang
kan
diperoleh setelah prose penormalan tergantung pada laju pendinginan diudara. Laju pendinginan cepat akan menghasilkan kekuatan
dan
kekerasan yang lebih tinggi. Atas dasar tersebut, jika didinginkan kekuatan
dan
kekerasan yang lebih tinggi laju pendinginan diudara yang
agak cepat dapat dicapai dengan
menggunakan
kipas angin.
Proses penormalan umumnya diterapkan pada baja karbon dan baja
paduan rendah. Kekerasan yang diperoleh dari perlakuan ini tergantung pada ukuran, komposisi baja serta laju pendinginan. Normalizing tidak dapat diterapkan pada jenis
baja yang dapat
dikeraskan diudara.
Pendinginan diudara setelah proses austenisasi baja-baja paduan akan menghasilkan kekerasan yang
lebih tinggi. Untuk itu agar tetap memiliki
mampu mesin yang memadai baja-baja tersebut dapat ditemper
600-6500C. dengan
demikian untuk beberapa jenis baja paduan dari pada menerapkan proses anil
yang cukup lama, lebih baik menerapkan proses normalizing
kemudian diikuti dengan
proses temper sehingga waktu yang diperlukan
relatif lebih
singkat.
Secara umum proses normalizing ini dilakukan dengan dengan cara memanaskan baja 850
derajat sampai 900 derajat, kemudian setelah suhu merata didinginkan
diudara.
MANFAAT DARI PROSES NORMALIZING INI ADALAH ANTARA LAIN :
Menghilangkan struktur yang berbutir kasar yang diperoleh dari
proses pengerjaan yang sebelumnya di alami oleh baja:
a.
Mengeliminasi struktur yang kasar yang diperoleh dari akibat
pendinginan yang lambat pada proses anil
b.
Menghaluskan ukuran ferit dan pearlite
c.
Memodifikasi dan menghaluskan struktur cor dendritik
d.
Penormalan dapat mencegah distorsi dan memperbaki mampu mesin-mesin
baja paduan yang dikarburasi karen atemperatur penormalan lebih tinggi dari
temperatur pengkarbonan
e.
Penormalan dapat memperbaiki sifat-sifat mekanik
3.
TEMPERING
Proses temper adalah proses memanaskan kembali baja yang
sudah
dikeraskan dengan tujuan untuk
memperoleh kombinasi antara
kekuatan, duktilitas dan ketangguhan yang tinggi.
Proses temper
terdiri dari memanaskan baja
sampai dengan temperatur
dibawah temperatur A1, dan menahannya
pada
temperatur tersebut untuk jangka waktu
tertentu dan kemudian
didinginkan diudara. Hasil penelitian
menunjukan bahwa pada
saat temperatur dinaikan, baja yang dikeraskan akan mengalami 4
tahapan sebagai
berikut:
a.
Pada temperatur antara 80 dan 2000C, suatu produk transisi yang kaya karbon yang dikenal sebagai karbida, berpresipitasi
dari martensit tetragonal sehingga menurunkan tetragonalitas martensit atau bahkan mengubah martensit tetragonal menjadi ferit kubik. Perioda ini disebut sebagai proses temper tahap pertama. Pada saat ini, akibat keluarnya
karbon, volume martensit berkontraksi. Karbida yang terbentuk pada perioda ini disebut
sebagai karbida epsilon.
b.
Pada temperatur antara 200 dan 3000C, austenit sisa mengurai menjadi suatu produk seperti bainit.
Penampilannya mirip martensit
temper. Perioda
ini disebut sebagai proses temper tahap kedua. Pada
tahap ini volume baja meningkat.
c.
Pada temperatur antara 300 dan 4000C, terjadi pembentukan dan pertumbuhan sementit dari karbida yang berpresipitasi pada tahap pertama dan kedua. Perioda ini disebut sebagai proses temper tahap ketiga. Perioda
ini ditandai dengan adanya penurunan volume dan melampaui efek yang
ditimbulkan dari penguraian austenit pada tahap yang kedua.
d.
Pada temperatur 400 dan 7000C pertumbuhan terus
berlangsung
dan
disertai dengan proses sperodisasi dari sementit. Pada temperatur yang
lebih tinggi lagi, terjadi pembentukan karbida kompleks, pada baja-baja yang
mengandung
unsur-unsur pembentuk karbida yang
kuat. Perioda ini
disebut sebagai
proses temper tahap
keempat.
e.
Perlu diketahui bahwa
rentang temperatur
yang tertera pada
setiap
tahap
proses temper, adalah spesifik. Dalam praktek, rentang
temperatur tersebut
bervariasi
tergantung pada laju pemanasan,
lama penemperan, jenis dan
sensitifitas pengukuran yang digunakan. Disamping itu,
tergantung juga pada
komposisi kimia baja yang diproses.
PENGARUH UNSUR-UNSUR PADUAN PADA PROSES TEMPERING:
Jika baja dipadu, interval diantara tahapan proses temper akan bergeser kearah temperatur yang lebih
tinggi; dan
itu
berarti martensit menjadi lebih
tahan
terhadap proses penemperan. Unsur-unsur pembentuk karbida khususnya: Cr, Mo, W, Ti dan V dapat menunda penurunan kekerasan dan kekuatan baja meskipun temperatur
tempernya dinaikan.
Dengan
jenis dan jumlah yang tertentu dari unsur-unsur tersebut diatas, dimungkinkan bahwa penurunan kekerasan dapat terjadi pada temperatur antara 400-6000c, dan dalam beberpa hal, dapat juga terjadi peningkatan
kekerasan. Pengaruh unsur paduan terhadap penurunan kekerasan diterangkan dengan adanya kenyataan bahwa unsur paduan tersebut menunda presipitasi karbon dari martensit pada temperatur temper yang lebih tinggi dilain pihak, peningkatan kekerasan pada temperatur temper yang
lebih
tinggi pada
baja-baja yang
mengandung W, Mo, dan V disebabkan karena adanya transformasi austenit sisa
menjadi martensit.
Baja perkakas paduan tinggi seperti baja
hot-worked dan high speed pada rentang
temperatur pada 200-3000C, austenit sisa yang
ada belum bertransformasi.
Tetapi
pada penemperan sekitar
450-6000 C, austenit akan terkondisikan
dan ketika didinginkan, akan terbentuk martensit sekunder. Dengan adanya martensit
seperti itu pada baja yang barsangkutan, prose penemperan tidak menghasilkan pelunakan yang
berarti. Pengkondisian austenit tergantung
pada waktu dan temperatur. Dengan adanya presipitasi karbida, kandungan karbon dan unsur paduan pada
austenit akan menurun, sehingga meningkatkan temperatur
pembentukan martensit. Pembentukan matrensit dari austenit sisa barsama-sama dengan adanya presipitasi
karbida akan menimbulkan
peningkatan kekerasan yang
merupakan ciri dari
baja-baja paduan
tinggi
dan baja high
speed.
Pada baja high speed dan baja yang
mengandung Cr yang tinggi, austenit sisa
bertransformasi menjadi martensit
pada saat didinginkan dari temperatur temper sekitar 5000C. karena
itu,
baja seperti itu harus ditemper kembali dengan maksud
untuk meningkatkan
ketangguhan
baja yang
diproses takibat terbentuknya
martensit sekunder
pada saat ditemper. Peningkatan kekerasan sebagai akibat dari adanya transformasi austenit sisa menjadi martensit merupakan hal yang umum
terjadi pada baja-baja paduan tinggi, namun sangat jarang terjadi pada baja-baja karbon dan baja
paduan rendah karena
jumlah austenit sisanya relatif sedikit. Sedangkan pada baja paduan tinggi jumlah austenit sisanya mencapai lebih dari 5-300 C.
4.
QUENCHING
Perlakuan baja ini
dilakukan dengan memanaskan
baja hingga fasa menjadi
austenit dan didinginkan secara
cepat (lihat diagram
CCT baja karbon rendah). Media
pendinginan cepat seperti
air, oli, garam
atau media pendingin lainnya.
Tujuan utama perlakuan ini untuk meningkatkan kekerasan baja.

Diagram : gabungan
annealing, non treat, quenching
Quenching merupakan salah satu
teknik perlakuan panas
yang diawali dengan proses
pemanasan sampai temperatur
austenit (austenisasi) diikuti pendinginan secara cepat, sehingga
fasa austenit langsung bertransformasi secara parsial membentuk
struktur martensit. Austenisasi
dimulai pada temperatur minimum ± 50°C di atas Ac3,yang
merupakan temperatur aktual transformasi fasa ferit, perlit,
dan sementit menjadi
austenit. Temperatur pemanasan
hingga fasa austenit untuk
proses quenching disebut
juga sebagai temperatur
pengerasan (haardening temperatur). Dan setelah mencapai temperatur
pengerasan, dilakukan penahanan
selama beberapa menit
untuk menghomogenisasikan energi
panas yang diserap selama pemanasan, kemudian didinginkan secara cepat
dalam media pendingin. Pada percobaan kami media pendingin yang didinginkan
adalah air.
TUJUAN QUENCHING
Tujuan utama quenching adalah menghasilkan baja dengan sifat kekerasan
tinggi. Sekaligus terakumulasi dengan kekuatan tarik dan kekuatan luluh,
melalui transformasi austenit ke
martensit. Proses quenching
akan optimal jika
selama proses transformasi, struktur
austenit dapat dikonversi
secara keseluruhan membentuk struktur
martensit. Hal-hal penting
untuk menjamin keberhasilan
quenching dan menunjang terbentuknya martensit khususnya, adalah :
temperatur pengerasan, waktu
tahan, laju pemanasan,
metode pendinginan, media
pendingin dan hardenability. Quenching
adalah proses pendinginan
secara cepat setelah
mengalami pemanasan.
Ada tiga tingkatan pendinginan, yaitu:
1) Vapor-blanket Cooling stage
Tahap pertama, suhu logam sangat tinggi sehingga
medium quenching menguap pada permukaan logam.
2) Vapor-transport Cooling Stage
Proses
ini dimulai ketika
logam didinginkan pada
suhu uap air
dan film tidak stabil.Permukaan logam basah oleh
medium quenching dan titik didih yang tinggi. Tahapan ini merupakan proses
pendinginan yang paling cepat.
3) Liquid Cooling Stage
Proses ini dimulai ketika suhu permukaan logam
mencapai titik didih. Tahapan ini merupakan proses yang paling lambat. Laju reaksi, transformasi isotermal ditunjukan dalam diagram TTT. Garis yang
terdapat di sebelah kiri menyatakan
waktu yang diperlukan untuk memulai dengan dekomposisi. Garis yang
terdapat disebelah kanannya menyatakan waktu berakhirnyareaksi ( a + C
) Garis -garis yang terdapat pada
gambar tersebut dinamakan
dengan diagram transformasi
Isotermal atau diagram T-I.
Gambar T-I diperoleh
dari potongan-potongan contoh
baja eutektoid yang
dipanaskan sampai mencapai suhu
austenit dan dibiarkan
untuk waktu tertentu
agar transformasi ke austenit selesai sepenuhnya. Potongan-potongan
sampel kemudian dicelupkan lebih lanjut
sampai mencapai suhu ruang.
Perubahan
( a +
C ) tidak terjadi pada contoh
yang dibiarkan pada suhu 6200C selama kurang dari satu detik, dan transformasi
sempurna menjadi a +karbida baru terjadi setelah 10 detik berlalu.Dengan diagram
T-I membuktikan bahwa
transformasi austenit
berlangsungdengan lambat, baik pada suhu tinggi (dekat suhu eutektoid) maupun
suhu rendah . Reaksi yang lamban
pada suhu tinggi
disebabkan karena tidak
cukup pendinginan lanjutyang
dapat menimbulkan nukliasi
ferit dan karbida baru
dari austenit semula.
Menurut media pendinginnya,
quenching dapat dibagi menjadi beberapa agian,yaitu:
i.
Quenching air
Air adalah media
yang paling banyak
digunakan untuk quenching,karena
biayanya yang murah, dan mudah digunakan
serta pendinginannya yang cepat.
Air khususnya digunakan pada
baja karbon rendah
yang memerlukan penurunan temperatur
dengan cepat dengan
tujuan untuk memperoleh
kekerasan dan kekuatan
yang baik. Air memberikan pendinginan yang
sangat cepat, yang menyebabkan tegangan dalam, distorsi, dan
retakan
ii.
Quenching dengan media oli
Oli sebagai media
pendingin lebih lunak
jika dibandingkan dengan
air. Digunakan pada material
yang kritis, Antara
lain material yang
mempunyai bagian tipis atau ujung
yang tajam. Karena oli
lebih lunak, maka
kemungkinan adanya tegangan dalam,
distorsi, dan retakan kecil.
Oleh karena itu medium
oli tidak menghasilkan baja
sekeras yang dihasilkan
pada medium air.
Quenching dengan media air akan efektif jika dipanaskan pada suhu 30-60
derajat Celcius.
iii.
Quenching Dengan Media
Udara
Quenching dengan media
udara lebih lambat
jika dibandingkan dengan media oli maupun air. Material
yang panas ditempatkan pada screen.
Kemudian udara didinginkan dengan kecepatan tinggi
dialirkan dari bawah
melalui screen dan material panas.
Udara mendinginkan material
panas lebih lambat
dari dari pada medium air dan
oli. Pendinginan yang lambat kemungkinan adanya tegangan dalam dan distorsi.
Pendinginan udara pada umumnya digunakan pada baja yang mempunyai kandungan
paduan yang tinggi.
iv.
Quenching Dengan Media Air
Garam
Air garam adalah
media yang sering
digunakan pada proses
quenching terutama untuk
alat-alat yang terbuat
dari baja. Beberapa
keuntungan menggunakan air garam
sebagai media adalah.
Suhunya merata pada
air garam, proses pendinginan merata pada semua bagian logam, tidak ada
bahaya oksidasi, karburisasi, atau dekarburisasi selama proses pendinginan
5.
CASE HARDENING
Case hardeniong
merupakan kombinasi dari proses kimia dan proses perlakuan panas. Prosesnya
denhan memanaskan benda kerja pada temperature tertentu dalam suatu medium
kimia yang aktif.
Macamnya antara
lain :
i.
Carburizing
Carburizing
adalah proses penjenuhan lapisan permukaan baja dengan hardening akan
mendapatkan kekerasan lapisan permukaan yang sangat tinggi sedangkan pada
bagian tengahnya tetap lunak.
ii.
Nitriding
Proses ini
merupakan proses penjenuhan permukaan baja dengan nitrogen, yaitu dengan cara
melakukan holding dalam waktu yang agak lama pada temperature 4800 C
– 650 0 C dalam lingkungan amoniak (NH3).
Macamnya
nitriding antara lain :
o Strength
Nitriding : digunakan untuk meningkatkan kekerasan / ketahanan gesek dan
ketahanan fatigue.
o Anti Corrosion
Nitriding : bahan yang digunakan biasanya besi tuang dan baja paduan. Derajat
kelarutan nitrogen yang dapat dicari adalah 35 – 70 %.
iii.
Cyaniding
Proses
ini merupakan proses penjenuhan permukaan baja dengan unsure karbon dan
nitrogen bertujuan untuk meningkatkan kekerasan, ketahanan gesek, dan
kelelahan. Bila proses ini dilakukan di udara disebut karbunitriding.
Macam cyaniding
adalah :
o High Temperatur
Liquid Cyaniding
o High Temperatur
Gas Cyaniding
o Low Temperatur
Liquid Cyaniding
o Low Temperatur
Gas Cyaniding
o Low Temperatur
Solid Cyaniding
iv.
Sulphating
Sulphating
digunakan untuk meningkatkan ketahanan gesek dari bagian – bagian mesin maupun
alat-alat tertentu dari bahan HSS dengan cara penjenuhan lapisan permukaan
dengan sulfur.
ü Teori
Carburizing
Karburisasi
atau carburizing adalah proses penambahan unsure karbon pada permukaan baja
karbon rendah dengan metode difusi intersisi. Pemanasan carburizing dilakukan
pada suhu 9000 C – 9500 C. unsure karbon dapat
diperoleh dari arang kayu, arang batok kelapa atau suatu material yang
mengandung unsure karbon. Pengarbonan bertujuan untuk memberikan kandungan
karbon yang lebih banyak pada bagian permukaan dibandingkan dengan bagian
dalam, sehingga kekerasan pada permukaan lebih meningkat, tebal permukaan yang
dikarburizing dalam lingkungan melepaskan karbon, tergantung waktu, dan suhu
carburizing.
Carburizing
dapat dilakukan dengan empat cara :
a.
Pack Carburizing (Carburizing Dengan Perantara
Zat Padat)
Pada proses ini baja dimasukkan ke dalam kotak
baja yang berisi medium kimia aktif padat. Kotak tersebut dipanaskan sampai
pada suhu sekitar 9000 C – 9500 C. waktu total
ditentukan oleh kedalaman pengerasan yang hendak dicapai.
b.
Gas Carburizing (Carburizing Dengan Perantara
Zat Gas)
Pada proses ini, benda kerja dipanaskan dalam
atmosfer yang mengandung karbon, bisa gas alam maupun gas buatan. Benda kerja
dipanaskan dengan temperature 8500 C – 9000C.
c.
Liquid Carburizing (Carburizing Dengan
Perantara Zat Cair)
Proses ini dilakukan pada medium kimia aktif
cair. Komposisi medium kimianya adalah soda abu, NaCl, SiC, dan terkadang
dengan NH4Cl. Suhu yang digunakan 8500 C – 9000C.
d.
Paste Carburizing (Carburizing Dengan Perantara
Pasta)
Disini medium kimia yang digunakan berbentuk
pasta. Prosesnya adalah bagian yang akan dikeraskan ditutup dengan pasta dengan
ketebalan 3-4 mm lalu dikeringkan dan dimasukkan ke dalam kotak. Proses ini
dilakukan pada suhu sekitar 9200 C – 9300 C.
ü
Perubahan Pada Sifat-Sifat Material:
1)
Sifat Mekanis :
·
Peningkatan kekerasan permukaan
·
Peningktan ketahanan aus
·
Peningkatan kelelahan tarik / kekuatan tarik
2)
Sifat Fisik :
·
Grain pertumbuhan mungkin terjadi
·
Perubahan volume dapat terjadi
3)
Sifat Kimia :
·
Peningkatan kandungan karbon permukaan
ü
Pack Carburizing
Dalam proses
ini bagian yang decarburizing dimasukkan dalam kotak baja sehingga benar-benar
dikelilingi oleh arang. Arang yang diperlakukan dengan bahan kimia seperti BaCo3 yang
mendorong membentu CO2. Gas ini nantinya akan tereaksi dengan karbon
yang berlebih dalam arang untuk menghasilkan CO. CO bereaksi dengan permukaan
baja karbon rendah untuk membentuk atom karbon yang berdifusi ke dalam baja
Ø
Proses Packcarburizing Ada Tiga Tahapan, Yaitu
:
o
Heating
Pada tahap ini, terjadi pada fase austenite,
karena fase austenite adalah fase yang paling stabil. Material yang akan
decarburizing ditempatkan dalam kotak baja berisi arang aktif yang ditumbuhi
energizer (BaCO3, Na2CO3)
Reaksi kima :
Reaksi cementite untuk karbon monoksida
Sebagai sumber CO2 diperoleh
dari tambahan BaCO3 / Na2CO3 sehingga
terjadi proses :
Akibatnya semakin semakin tingginya temperatur
pemanasan, maka CO akan lebih banyak berbrntuk daripada CO2 sehingga
terjadi proses kimi sebagai berikut :
Pada suhu
pengarbonan, reaksi ini selalu berlangsung ke kanan, karena karbonmonoksida
bebas bereaksi dengan besi, kondisi ini seperti pada reaksi berikut :
Setelah proses di atas, baja telah dilapisi
oleh karbon, sedangkan CO2 hasil proses di atas akan berrikatan
dengan BaO, sehingga menghasilkan :
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI PACK CARBURIZING
§
Holding Time
Semakin
lama waktu penahanan, maka proses difusi akan semakin dalam, sehingga akan
mebuat kekerasan semakin meningkat.
Y = k . 
Y = total
kedalaman difusi
k = konstanta
bahan
t = waktu
penahanan
§
Temperature
Temperature yang tinggi akan menyebabkan arang
akan lebih mudah berdifusi masuk dan mengisi celah-celah kosong diantar butiran
atom, sehingga akan meningkatkan kekerasan.
§
Komposisi Carburizer
Komposisis carburizer, yaitu arang + energizer
akan mempengaruhi kekerasan karena mempengaruhi laju reaksi selama heating
§
Media Quenching
Media quenching berpengaruh terhadap proses
pendinginan (cooling).
§
Medianya Adalah Sebagai Berikut :
§
Air
Murah serta systemnya sederhana. Kekurangannya
air mudah membentuk selimut uap yang menutupi permukaan material, sehingga
menghhasilkan pendinginan tidak seragam di penempang permukaan yang luas.
Eliminasinya ditambahkan Na / Ca Chloride, membutuhkan closed sytem.
§
Oli
kemampuan pendinginan tidak sebaik air karena
pengaruh veskositasnya.
§
Larutan Polymer
Kemampuan pendinginan diantara oli dan air.
Memerlukan close control karena konsentrasinya mudah berkurang.
§
Lelehan Garam
Dapat bekerja pada rentangn temperature yang
besar (1500 C – 5950 C). karena karakter tersebut,
lelehan garam banyak digunakan untuk delayed quenching.
Ö APLIKASI PROSES HEAT TREATMENT
Aluminium adalah material yang
banyak sekali digunakan untuk konstruksi, mulai
dari sepeda, otomotif,
kapal laut hingga
pesawat udara. Keunggulan material aluminium
adalah berat jenisnya
yang ringan dan
kekuatannya yang dapat ditingkatkan
sesuai dengan kebutuhan.
Kekuatan aluminium biasanya ditingkatkan dengan cara
paduan (alloying) dan memberi perlakuan panas (heat
treatment).Paduan aluminium merupakan material utama yang saat ini digunakan
industri pesawat terbang
komersial. Aluminium dipilih
karena memiliki sifat ringan
dan kekuatannya dapat
dibentuk dengan cara
dipadu dengan unsur
lain. Permasalahan yang dihadapi adalah
pemilihan jenis unsur apa
yang akan dipadu dengan aluminium
untuk mendapatkan karakteristik material
yang dibutuhkan.
Unsur paduan
yang ditambahkan dan
perlakuan panas (heat
treatment) yang diberikan
pada aluminium selama
pemrosesan sangat mempengaruhi sifat paduan aluminium yang
dihasilkan. Awalnya paduan aluminium
dikembangkan dengan tujuan mendapatkan material yang kuat dan
ringan. Namun, seiring dengan
berkembangnya kebutuhan struktur
pesawat udara komersial dengan
ukuran yang semakin
besar,material yang dibutuhkan
tidak hanya kuat dan
ringan saja. Dewasa
ini paduanaluminium dikembangkan untuk mendapatkan material
yang kuat, ringan,
usia pakai yang
lama, biaya produksi rendah, toleransi
kegagalan tinggi, dan
tahanan korosi yang
baik.Sekitar tahun 1900 duralium,
paduan aluminium dengan
tembaga,magnesium, dan mangan, petama kali diperkenalkan di Jerman.
Jenis ini merupakan paduan aluninium yang dapat
diberi perlakuan panas
(heat treatment) dan
menghasilkan kombinasi kekuatan
dan keuletan yang baik.
Saat ini paduan ini dikenal dengan nama aluminium 2017-T4. Pesawat udara
yang pertama kali memakai struktur rangka aluminium adalah Junkers F13 yang
diproduksi di Jerman pada tahun 1920 dan kemudian disusul Douglas DC3 yang
memakai aluminium 2024-T3. Keunggulan aluminium 2024-T3 adalah memiliki
tahanan fatik yang
lebih baik dari
versi sejenisnya. Boeing-777
merupakan pesawat udara komersial terbesar dengan dua mesin propulsi
yang menggunakan material struktur utama
dari aluminium. Sekitar
70 persen struktur
Boeing-777 dibuat dari material
paduan aluminium. Struktur upper wing
Boeing-777 dibuat dari
lempengan dan ekstrusi
aluminium 7055-T7751. Paduan
ini dipilih karena memiliki kekuataan
dan tahanan retak
yang lebih baik dari
aluminium7150-T7. Sedangkan
struktur fuselage dibuat
dari aluminium 2524-T3
yang merupakan modifikasi dari
aluminium 2024-T3. modifikasi
ini dilakukan untuk meningkatkan tahanan
retak (fracture toughness)
dan kemampuan menghambat kelelahan struktur akibat pertumbuhan
retak (fatigue crack
growth resistance). Pengembangan
paduan aluminium untuk struktur
Boeing-777 ini dilakukan oleh Alcoa.
DAFTAR PUSTAKA
:
a)
<http://garispandang.blogspot.com/2011/03/heat-treatment-perlakuan-panas.html> , Akses 28 APRIL 2012
b)
<http://www.airproducts.co.id/ind/metals/foundries_heatTreatment.htm#annealing> , Akses 28 APRIL 2012
c) <http://www.scribd.com/doc/44350603/Bab-i-Heat-Treatment-Felly-Acc-Tulis>,
Akses 1 MEI 2012
d)
<http://www.steelindonesia.com/article/02-heat_treatment.htm>, Akses 1 MEI 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar